Trekking di Sentul, Malah Bertemu “Kuburan Baru” di Atas Bukit
Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kejadian ini terjadi di area Trekking Sentul pada pertengahan maret lalu. Aku tidak pernah menyangka bahwa perjalanan kami ini akan berujung dengan ditemukannya empat onggok kuburan “yang masih ada bunga” baru ketika kami hendak meng-eksplor sebuah bukit yang berada di Sentul, warga sekitar memanggilnya dengan sebutan “Gunung Aul”.
Pagi Hari berniat untuk Trekking di Sentul
Suatu pagi, ketika wekkend. Seperti biasa aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan hal-hal yang disukai, selain menulis aku juga sangat menyukai alam, terlebih bukit atau gunung. Pada weekend kali ini aku memutuskan untuk pergi ke satu tempat yang sebelumnya tidak pernah aku tahu, namanya adalah “Gunung Aul”.
Begitu orang menyebutnya, meskipun dinamakan gunung tempat ini lebih tepatnya disebut bukit karena ada perbedaan yang mencolok antara gunung dan bukit. Bukit adalah kumpulan tanah yang menggumpal tinggi menyerupai gunung, sedangkan gunung adalah gumpalan tanah yang memiliki ciri-ciri berbeda seperti ukuruannya yang besar dan tinggi jauh melebihi bukit.
Pagi itu aku berniat untuk kembali menjumpai Sentul, tempat biasa aku menikmati alam setiap dua minggu sekali, namun yang biasanya aku menjelajahi hutan, Leuwi dan Curug kali ini aku ingin mendapatkan sesuatu yang sedikit berbeda. Aku ingin sekali mendaki.
Tidak ada gunung yang dekat dengan Jakarta tempat aku bekerja, walaupun itu ada aku juga tidak mempunyai teman yang bisa menunjukkan jalan jika saja aku pergi sendirian itu bukanlah suatu pilihan yang baik untuk orang baru sepertiku.
Aku teringat pada seorang teman di Sentul tempat biasa melakukan trekking santai. Dengan geografis yang sangat indah tidak menutup kemungkinan jika salah satu bukit di sana memiliki view yang bagus seperti di Swiss. Aku memutuskan untuk mengajak teman-teman dan warga di sana untuk trekking bersama mendaki bukit. Dari sinilah kidah seram ini dimulai.
Memulai keberangkatan setelah magrib
Kata orang tidak boleh berjalan ketika orang sedang shalat magrib, “Yaialah masa iya orang solat disuruh jalan? Hehe”. Pamali kata orang di sini, aku dan teman-teman akhirnya bersepakat bersama untuk memulai perjalanan setelah solat magrib. Kami solat magrib bersama di sebuah pesantren kecil yang didirikan olah salah satu temanku di sini.
Setelah magriban selesai, kami tidak berpikir panjang lagi. Langsung melangkahkan kaki sembari melinting sebatang tembakau harum yang disebut rokok. Kami pergi berempat orang, dengan membawa satu orang warga yang sudah menempuh jalan ini sebelumnya, karena memang beberpa bulan yang lalu katanya ada orang yang berkemah di atas puncak sana.
Namanya Hanung, begitu kami memanggilnya. Aku, Ace dan Kang Abang berjalan tepat di belakangnya. Hebat sekali si Hanung ini, dia bisa membawa sebuah galon besar berisi ait minumg ke atas puncak bukit yang katanya sangat terjal dan mengerikan itu. Aku saja yang hanya membawa satu buah cerril sudah terasa sangat berat.
Perjalanan kami dimulai dari melewati kebun kopi, memang luar biasa Sentul memang memiliki tanah yang sangat subur sehingga tanaman dengan mudahnya tumbuh di sini. Pohon kopi yang begitu banyak dan lebat ini masih terkesan biasa-biasa saja bagi kami karena memang tidak begitu ekstreem dan terkesan datar.
Meski begitu kami sedikit lamban karena ada salah seorang dari teman kami yang kelelahan, ya mungkin pengaruh umur dan badan yang lumayan berisi membuat Kang Abang begitu mudah sekali lelah apalagi ini pendakian pertama kali baginya setelah sekian lama tidak melakukannya.
Tidak mau egois, aku dan teman-teman memutuskan untuk bersama berhenti walau perjalanan baru dimulai beberapa menit yang lalu. Kami duduk di dekat batang pisang milik warga dan menghidupkan api dengan membakar beberapa daun pisang kering.
Setelah hampir 45 menit, kami melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya kerana kata Hanum setelah ini akan meresakan medan yang lebih berat dari yang tadi, aku meragukan Kang Abang. Banar dugaanku, Kang Abang sudah mengeluh lelah meski belum sampai 10 menit berjalan dia kembali duduk di jalan yang langsung berbatasan dengan jurang.
Hanung berangkat lebih dahulu, mungkin dia sedikit kesal dan berat karena galon air yang dipikulnya. Aku, Ace dan kang abang memilih berhenti sejenak. Tidak lama berselang kami terpisah dengan hanung bahkan sautan kami pun tidak dibalasnya, artinya dia sudah berjalan sangat jauh dari kami.
Karena memikirkan Kang Abang, kami berhenti cukup lama dan kembali melanjutkan perjalanan setelah 30 menit berhenti. Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan yang barusan dibuka oleh Hanung yang hebat itu, kata Hanung sebenarnya perjaanan dari bawah ke puncak hanya 45 menit saja namun bagi kami mungkin membutuhkan waktu tiga jam perjalanan.
Berhenti dan membuat api unggun di lokasi camp
Akhirnya kamu sudah sampai di tengah perjalanan, di sini kamu akan membuat camp dengan menggunakan dua tenda. Posisinya bagus langsung berhadapan dengan bukit dan juga matahari terbit, tempat yang sangat indah yang sedikit mengobati kerinduanku dengan puncak gunung. Namun karena hari sudah malam kami tidak bisa melihat apa-apa dari sini dan berharap esok hari adalah hari yang cerah.
Api unggun sudah mati, begitu juga dengan lelah yang perlahan pergi kami berempat melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung aul, di sini lah hal-hal aneh mulai terjadi. Kang abang yang sebelumnya mudah lelah sekarang terlihat lebih kuat mungkin karena dia segan untuk berhenti di tempat seperti ini, kami mulai memasuki semak belukar tidak ada jalan Hanung kembali membuka jalan dengan parang tajamnya dan kami mengikuti di belakang dengan was-was.
Aku dan Ace mendangar suara yang sedikit aneh di dekat kami, seperti napas hewan buas tapi jika itu hewan buas mungkin kamu sudah mati diterkam, karena terdengar begitu dekat dengan telinga kami.
Tiba-tiba Kang Abang terpeleset dan hampir terjatuh ke jurang. Memang lokasi ini sangat dekat dengan jurang sehingga kami berjalan di tepi-tepinya, salah sedikit saja nyawa adalah taruhannya. Aku dan Ace tidak menghiraukan suara tadi meski sama-sama mendengar kami memutusakan untuk menceritakan semuanya ketika sudah sampai di bawah nanti.
Akhirnya tidak lama berselang, kami sudah sampai di tahap terakhir pendakian ini. Kami bertemu dangan sebuah kursi yang sengaja dibuat orang duduk di puncak bukit, terlihat plastik dan bekas-bekas minuman kaleng di sini menandakan kalau tempat ini sudah pernah didatangi oleh manusia.
Rute Lutut Dagu
Pada rute terakhir ini sangat berbeda karena medannya sangat miring dan untuk mencapainya lutut dan dagu kami selalu bertemu karena begitu curam dan tingginya, sehingga kami menyebutnya rute lutut dagu.
Tidak lama kemudian kami berhasil melewati rute terakhir ini, di sinilah kami dikejutkan dengan kuburan baru yang tertanam di atas puncak bukit dan tidak pernah ada yang melihatnya sebelumnya.
Bertemu Kuburan
Kuburannya ada empat dan menyerupai tubuh kami berempat, dua lebih besar seperti aku dan Kang Abang dan dua lagi berukuran lebih kecil seperti Ace dan Hanung. Aku sedikit ketakutan, karena kuburan itu masih sangat baru.
Namun ketakutanku sedikit berkurang karena Hanung bilang ini hanya tumpukan tanah yang sengaja dibuat untuk menaman sesuatu, aku tahu itu cara dia untuk menghilangkan rasa takut kamu. Tapi aku belum pernah sebelumnya melihat tumpukan tanah yang disiapkan untuk menaman sesuatu memiliki nisan di atasnya yang lengkap dengan bunga yang masih baru. Sepetinya ini memang benar-benar kuburan.
Kami tidak lansung turun, tapi memutuskan untuk minum kopi guna menghilangkan sedikit ketakutan dengan tertawa-tawa palsu di dekat empat onggok kuburan ini. Eantah aku saja yang merasakannya tapi hal ini benar-benar mengerikan.
Turun melewati jalan baru
Kami turun melewati jalan yang tidak kami lewati sebelumnya, Hanung bilang jalan dari sini lebih dekat dan kami mengikutinya. Ternyata jalan ini belum pernah dilalui sebelumnya, akhirnya kami terjebak di semak belukar yang berduri tajam.
Meski begitu hanung tetaplah hanung, dia berhasil membawa kami leuar dari belukar dan jurang lalu membawa kami kembali ke tempat camp di bawah tadi.
Tempat Camp yang indah
Tempat camp yang sangat inidah, dari sini semuanya terlihat termasuk gunung pancar dan bukit barisan yang berada tepat di depan mata pada saat membuka pintu tenda. Sungguh indah Sentul ini, aku mungkin akan pernah melihat tempat seindah ini sbelumnya, meski tidak terlalu tinggi tempat ini sangat rekomendasi sekali buat kamu yang suka melakukan trekking di alam liar.


